Selasa, 27 Mei 2014

Pemimpin U(t)ang

Indonesia..indonesia negeri yang kaya raya..
negeri makmur yang damai sentosa
Indonesia negeri penuh pesona
membawa cinta bagi yang memandangnya


Tahun ini orang sering memanggilnya sebagai tahun politik, tahun perubahan status kebijakan. padahal yang namanya politik itu setiap hari kan? he..he.. mungkin karena di tahun ini ada dua kali pemilu, yakni legislatif dan juga presiden yang keduanya itu menelan biaya yang tidak sedikit.

Politik di negeri Indonesia ini , ramai dibicarakan dari kalangan elitis sampai alitis. Apalagi bicara mengenai siapa calon pemimpin di negeri ini, seru sedan deh sepertinya. namun yang selalu bikin mules pemikiran (istilah baru) adalah bagaimana mengamankan proses pemilihan ini agar kita menghasilkan calon yang terbaik, bukan calon lipstik dan calon presiden topeng.

dulu reformasi '98 itu muncul untuk melawan sebuah hegemoni atau bisa dibilang tirani, namun apakah semua lapisan masyarakat bahwa orde baru itu adalah sebuah orde yang membuat masyarakat sengsara? buktinya sekarang dimana-mana ada stiker 'enak jamanku to' yang dibelakangnya muncul background penguasa pada masa itu. Lah bisa jadi tokoh reformasi malah dianggap sebagian masyarakat lain penghancur impian, mengapa? karena dengan adanya refirmasi rakyat susah nyari kerja karena tak ada lagi program padat karya.

bukan..bukan berarti saya antiklimaks sebuah perjuangan reformasi. Namun yang patut di evaluasi dan di kritisi adalah benarkah reformasi itu sudah mencapai klimaksnya? atau bahkan hanya berganti penguasa saja namun sistem korup masih terus bertahta di atas rakyat indonesia. Yang miris kemudian, warisan utang itu yang membuat jiwa ini rasanya terenyuh. kok bisa negeri se kaya Indonesia ini berhutang sebanyak itu, kok bisa negeri yang kaya sdm nya dan kaya sda nya seakan seperti macan ompong yang tak punya nyali dan taring untuk mewujudkan cita preambule konstitusi negeri ini? mewujudkan perdamaian abadi...

tidak mudah memang memimpin negeri ini, namun jika terus dibiarkan rakyat dipimpin oleh pemimpin lipstik maka warisan selanjutnya adalah tidak terbayarnya impian-impian negeri ini yang terangkum pembukaan dalam UUD '45. boleh kemudian saya sebut pemimpin (u)tang....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar